Home » , » Sunda Kopi dan Kisah Barista Melawan Pertambangan

Sunda Kopi dan Kisah Barista Melawan Pertambangan

Sunda Kopi dan Kisah Barista Melawan Pertambangan, Yamada Kopi
Sunda Kopi dan Kisah Barista Melawan Pertambangan, Yamada Kopi

Sunda Kopi dan Kisah Barista Melawan Pertambangan

Sebuah kedai kopi berdiri di tengah belukar pepohonan hutan, tepat di antara puncak Gunung Sunda dengan tempat awal pendakian. ‘Sunda Kopi’, tertulis pada sebuah papan yang terpampang diatas pintu masuknya.

Nuansa sunda terasa kuat dari bangunannya yang sebagian besar terbuat dari bambu. Diceritakan sang barista desain bangunan Sunda Kopi memang terinspirasi dari leuit yang ada di desa adat Sirnaresmi, Cisolok, Sukabumi. Leuit sendiri adalah sebuah bangunan tradisional khas Sunda yang dipergunakan sebagai lumbung padi.

Sunda Kopi didirikan dengan mengemban beberapa misi; pertama, mengenalkan biji kopi khas dari daerah Jawa Barat. Kedua, memberikan edukasi tentang kopi pada pelanggan dan edukasi tentang cara mengolah kopi pada petani. Ketiga, menolak eksploitasi perusahaan semen dan aktivitas pertambangan di daerah Gunung Sunda.

Pertama kali didirikan oleh para aktivis yang peduli terhadap budaya dan lingkungan, Sunda Kopi menjadi salah satu alat perlawanan, sekaligus mengangkat sektor pariwisata Sukabumi yang sudah semakin tenggelam setelah pamor pantai Pelabuhan Ratu tergeser oleh pantai-pantai lain yang disokong fasilitas modern dan dana investor besar.

Kisah Perlawanan Sunda Kopi

Kemunculan Sunda Kopi tidak dapat dilepaskan dari eksistensi pariwisata Gunung Sunda. Mulanya Gunung Sunda hanya sebuah bukit tempat sumber air di pekarangan belakang warga Kampung Jambelaer, Desa Padaasih. Tetapi, pada tahun 2014 terdengar sebuah rencana penambangan Gunung Sunda untuk bahan baku semen. Kabar ini yang kemudian menarik perhatian para aktivis dan simpatisan untuk mengadakan sebuah gerakan menolak penambangan karena selain dapat merusak alam, juga melenyapkan situs-situs peninggalan, serta menghilangkan sumber air warga.

Hal pertama yang mereka lakukan untuk menolak pertambangan adalah melakukan mediasi dengan pihak perusahaan, dan dari hasil medasi muncul kesepakatan: “terhitung dari tahun 2016, dalam jangka waktu sepuluh tahun Gunung Sunda harus sukses menjadi tempat pariwisata”.

Semenjak itu mulai bermunculan tagar #SaveGunungSunda di berbagai platform media sosial untuk menarik simpati dan partisipasi warga Sukabumi. Usaha cukup berhasil, Gunung Sunda kini sudah mulai dikenal oleh warga Sukabumi sendiri, maupun wisatawan dari luar kota. Mulai banyak aktivitas rutin yang dilakukan masyarakat maupun wisatawan di sana, antara lain destinasi untuk memotret keindahan sunrise atau sunset, tempat berolah raga bagi berbagai komunitas, hingga sekedar tempat rekreasi bagi keluarga.

Fikri Fahrozi salah seorang barista Sunda Kopi mengakui, dengan menjadi barista di sana ia masuk dalam bagian dari perlawanan. Karena Sunda Kopi menjadi daya tarik baru bagi Gunung Sunda, bukan lagi hanya menikmati lanskap daerah Sukabumi sekarang Sunda Kopi menjadi alasan lain untuk mengunjungi Gunung Sunda.

Dapat dibilang Sunda Kopi jadi sebagian dari perlawanan, karena menjadi salah satu pemikat wisatawan juga kan. Sudah capek mendaki, dan selesai menikmati pemandangan Sukabumi di puncak, saat turun kan enak disuguhi kopi.

Kopi Asli Sukabumi

Kedai kopi ini dapat dikunjungi mulai dari matahari terbenam hingga pengunjung bosan. Terdapat berbagai macam biji kopi dari Jawa Barat yang dapat pelanggan pilih, disajikan dengan metode brewing atau penyeduhan yang beragam, mulai kopi tubruk yang khas Indonesia, V60, espresso hingga latte.

Dari sekian banyak biji kopi yang disuguhkan, Halimun merupakan andalan mereka. Biji kopi asli dari Sukabumi ini memiliki rasa yang sedikit berbeda, salah satu penyebabnya mungkin karena keunikan karakter dari tempat penanaman pohonnya.

Para pecinta kopi mungkin sudah tidak asing dengan karakter pohon kopi arabika dan robusta. Arabika cenderung lebih ‘manja’ karena ia hanya dapat tumbuh di ketinggian 1200-1500 mdpl (meter di atas permukaan laut), dan robusta tumbuh di ketinggian 700-1000 mdpl. Tetapi, menurut sang barista kopi Halimun merupakan kasus anomali, karena pohon kopi Halimun ini saling bertukar tempat, arabika di ketinggian rendah, dan sebaliknya robusta di ketinggian yang lebih tinggi. Keunikan lain dari biji kopi robusta Halimun adalah ukurannya yang lebih besar dari biji kopi lainnya, sehingga dijuluki sebagai elephant beans atau biji gajah.

Kopi Halimun yang sempat lama tenggelam, sejak tahun 2013 mulai diangkat kembali eksistensinya. Bahkan sekarang sudah mulai banyak diminati di luar kota, permintaan dari luar daerah pun mulai banyak berdatangan.

Sekarang produksi sudah mulai banyak, pesanan dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, malah terakhir kabarnya sudah sampai ke Sumatera.

Edukasi Tentang Kopi

Selain minuman, barista juga menyuguhkan obrolan hangat dan edukasi tentang kopi, mereka bersedia berbincang panjang lebar untuk memberikan pengunjung pemahaman tentang jenis-jenis biji kopi, bagaimana kopi diproses dari mulai di tangan petani hingga tersaji di dalam cangkir, hingga mereka mempersilakan pengunjung untuk menyeduh kopinya sendiri.

Karena kebanyakan kedai kopi sekarang mengandalkan varian teh seperti thai tea, atau green tea, sebagai daya tarik utamanya. Penyebabnya karena budaya kopi di Indonesia memang belum terkenal seperti minum teh.

Dari pengalaman saya bekerja di beberapa kedai kopi bukan kopi yang jadi andalan tetapi thai tea.

Tidak ada yang salah dengan itu, mereka pun menyediakan varian teh di Sunda Kopi, tetapi mereka berharap pelanggan mendapatkan pengetahuan ketika berkunjung ke kedai mereka, sehingga ketika pulang pelanggan dapat lebih mengenal kopi.

Selain itu Sunda Kopi juga turut mengedukasi petani kopi, khususnya petani kopi Halimun. Mereka memberikan informasi terkait cara mengolah kopi supaya mendapatkan keuntungan yang besar. Karena petani kopi seringkali mendapat imbalan yang kecil ketika ia menjual buah kopi mentah pada tengkulak. Padahal kopi ketika sudah diolah dapat berharga tinggi, satu kilogram biji olahan dapat bernilai ratusan ribu bahkan hingga jutaan rupiah.

0 komentar:

Posting Komentar